.

.

laporan fister (acara II)

Written By Unknown on Monday, March 2, 2015 | Monday, March 02, 2015



THERMOREGULASI

Tinjauan Pustaka
Thermoregulasi merupakan proses homestatis untuk menjaga agar suhu tubuh suatu hewan agar tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur dan mengontrol keseimbangan antar banyak energi (panas) yang diproduksi dengan energi yang dilepaskan. Menurut pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga suhu tubuhnya dapat berubah – ubah. Hewan homoiterm memiliki suhu tubuh yang stabil dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan (Dukes, 1995).
Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh system pengaturan suhu tubuh yang pada dasarnya tersusun atas 3 komponen yaitu thermoregulasi dan syaraf aferen, hypothalamus, syaraf aferen dan efektor thermoregulasi. Sistem mempunyai fungsi utama untuk menjaga supaya suhu selalu berada dalam zona thermoneutral dan hypothalamus sebagai pusat kontrolnya. Ketika hypothalamus terganggu maka mekanisme pengaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi thermostat tubuh manusia (Frandson, 1992).
Keseimbangan suhu tubuh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang mempengaruhi produksi panas dan faktor yang mempengaruhi pengeluaran panas. Panas tersebut berasal dari aktivitas metabolik dengan jalan pemecahan karbohidrat, lemak dan protein. Aktivitas otot juga merupakan salah satu usaha didalam penambahan produksi panas, dimana lebih dari 80% panas tubuh diproduksi daidalam otot skelet selama terjadi aktivitas otot, tetapi gambaran tersebut jauh lebih rendah apabila sedang istirahat (Sturkie, 1992).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil dan dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu – suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang siang dan malam serta faktor makanan yang dikonsumsi. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung atau aves serta mamalia (Swenson, 1997).
Hewan poikiloterm atau ektotermik adalah hewan berdarah dingin yang dapat menyesuaikan suhu tubuhnya dengan  suhu lingkungan. Hewan poikiloterm menaikkan suhu tubuhnya dengan cara menyerap panas dari sekelilingnya dan jumlah panas yang dihasilkan dari metabolisme. Contoh hewan poikiloterm adalah pisces, amphibi dan reptilian (Campbell, 2004).
Suhu tubuh bergantung pada neraca keseimbangan antara panas  yang diproduksi atau diabsorbsi dengan pans yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi, dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik ,tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer panas molekul. Panas yang menjalar dari suhu tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zar cair menjadi uap air ,besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Martini, 1998).



Materi dan Metode

Materi

Alat. Alat yang digunakan pada praktikum thermoregulasi adalah thermometer, penjepit katak, arloji (stopwatch), kendi, beaker glass dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum thermoregulasi adalah katak, air es, air panas, dan probandus (manusia).


Metode

Pengukuran Suhu Tubuh
Pengukuran pada mulut. Pertama-tama skala thermometer diturunkan sampai 0 oC, lalu ujung thermometer dibersihkan. Kemudian dimasukkan kedalam mulut diletakkan dibawah lidah dan mulut ditutup rapat. Setelah sepuluh menit skala dibaca dan dicatat. Dengan cara yang sama dilakukan pada mulut terbuka. Kemudian probandus berkumur dengan air es selama satu menit dan dengan cara yang sama dilakukan pengukuran seperti diatas.
Pengukuran pada axillaries. Pertama-tama skala thermometer diturunkan sampai 0 oC, Ujung thermometer disisipkan pada fase axillaris dengan pangkal lengan dihimpitkan, setelah sepuluh menit skala dibaca dan dicatat.
Proses Pelepasan Panas
Pelepasan panas pada katak. Pertama katak direntangkan pada papan dan diikat. Suhu tubuh katak diukur melalui oesofagus selama lima menit. Kemudian katak dimasukkan kedalam air es selama lima menit dan diukur suhu tubuhnya melalui oesofagus. Selanjutnya katak dimasukkan kedalam air panas 40 oC selama lima menit dan diukur suhu tubuhnya.
Pelepasan panas pada kendi. Disiapkan dua kendi yang satu dicat dan yang satu tidak. Masing-masing kendi diisi dengan air panas 70 oC dengan jumlah yang sama lalu diukur suhunya dengan thermometer tiap lima menit dicatat suhunya. Proses ini dilakukan sebanyak enam kali.


Hasil dan Pembahasan

Hasil

Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:
Probandus
Tabel 2.1. Nama Probandus
Nama
Umur
Jenis Kelamin
  Sugeng prayogi
18
Laki-laki
     Faras yulia
18
perempuan

A.  Pengukuran suhu (oC) pada mulut dan axillaris
Tabel 2.2. Hasil Pengukuran Temperatur ­­(oC) pada Mulut dan Axillaris
Perlakuan
Probandus I
Probandus II
Mulut tertutup             
Mulut terbuka
Berkumur air es
Mulut terbuka
Mulut tertutup
Axillaris
 37,3 oC
37,2 oC

36,5 oC
37 oC
37 oC
 37,5 oC
37,4 oC

37,3 oC
37,1 oC
37,5 oC

B. Pengukuran suhu (oC) tubuh katak
Tabel 2.3. Hasil Pengukuran Temperatur ­­(oC) Tubuh Katak
Perlakuan
Suhu (oC)
Suhu Katak (oC)
Keadaan biasa
Dalam air es
Dalam air panas
29 oC
12 oC
40 oC
28 oC
23  oC
32  oC
C. Proses pelepasan panas menggunakan kendi
Tabel 2.4. Hasil Pengukuran Temperatur ­­(oC) Tubuh Katak
 Kendi
Suhu (oC)
Awal
I
II
III
IV
V
VI
Bercat
Tidak bercat
70 oC
70 oC
60 oC
59 oC
57 oC
55 oC
54 oC
53 oC
50 oC
48 oC
48 oC
47 oC
47 oC
45 oC




Pembahasan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada kedua probandus memiliki hasil yang berbeda. Probandus I suhu didalam mulut yang tertutup adalah 37,3 oC dan mulut terbuka adalah 37,2 oC, sedangkan untuk pronamdus II suhu didalam mulut tertutup 37,5 oC dan mulut terbuka 37,4 oC . Mulut tertutup suhu yang tercatat lebih tinggi dibanding suhu tubuh saat mulut terbuka. Hal  ini disebabkan karena tidak adanya sirkulasi udara pada mulut tertutup sehingga suhu yang terukur secara keeluruhan. Saat mulut terbuka, udara didalam tubuh suhunya menjadi tinggi karena metabolisme dalam tubuh akan bercampur dengan udara yang bersuhu rendah sehingga akan tercapai keseimbangan diluar maupun didalam (Dukes,1995).
Percobaan berikutnya probandus I dan II berkumur dengan air es dan dilakukan pengukuran suhu tubuh dengan mulut tertutup dan terbuka. Probandus I sihu untuk mulut tertutup dan terbuka adalah 36,5  0C dan 37 oC, sedangkan probandus II adalah 37,3 oC dan 37 oC. Perbedaan suhu yang terjadi dalam percobaan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor umur, kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi serta aktivitas (Swenson, 1997)
Percobaan axillaris juga didapatkan hasil yang berbeda pada kedua probandus. Probandus I memiliki suhu axillaris 37 oC dan probandus II adalah 37,5 oC. Perubahan suhu yang terjadi pada kedua probandus menujukkan bahwa manusia tergolong homoiterm atau berdarah panas yang mampu mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan. Homoiterm mampu mempertahankan suhu tubuhnya agar tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar (Swenson, 1997).
Percobaan yang dilakukan pada katak menujukkan hasil bahwa suhu tubuh pada katak akan berubah dan menyesuaikan suhu pada lingkungannya. Ketika katak berada dalam suhu 29 oC maka suhu tubuhnya menjadi 28 oC dan suhu katak pada air es 13 oC kemudian dalam air panas adalah 32 oC. Katak merupakan hewan amphibi yang tergolong dalam hewan poikilotherm atau hewan berdarah dingin. Hewan poikiloterm ini dapat menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan yang berubah-ubah. Hewan poikilotherm menyesuaikan diri pada lingkungan dingin dengan menurunkan suhu tubuhnya. Demikian pula pada keadaan panas hewan pokilotherm akan meningkatkan suhu tubuhnya dengan melakukan aktivitas (Dukes, 1995)
Percobaan proses pelepasan panas digunakan dua macam kendi yaitu bercat dan tidak bercat.percobaan menggunakan kendi bercat dan tidak bercat terdapat hasil yang berbeda. Kendi yang bercat mampu mempertahankan panasnya lebih lama. Hal ini dikarenakan pada kendi yang bercat pori-pori tertutup oleh lapisan cat. Sedangkan pada kendi yang tidak bercat ,proses pelepasan panas terjadi dengan cepat. Kendi yang tidak bercat ,pada lapisan dindingnya tidak tertutup oleh lapisan cat sehungga proses pel
epasam panas terjadi tanpa adanya hambatan. Cat pada percobaan ini berfungsi sebagai isolator untuk mengahambat proses pelepasan panas. Proses pelepasan yang terjadi pada pecobaan tersebut terjadi secara konveksi dan evaporasi. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui cairan atau gas. Evaporasi atau penguapan merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap (Martini, 1998).

Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup dapat dibedakan menjadi poikilotherm dan homoitherm berdasarkan antara hubungan suhu tubuh dengan lingkungannya. Suhu tubuh pada makhluk hidup dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi serta aktivitas yang dilakukannya. Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh system pengaturan suhu tubuh yang pada dasarnya tersusun atas 3 komponen yaitu thermoregulasi dan syaraf aferen, hypothalamus, syaraf aferen dan efektor thermoregulasi. Suhu tubuh bergantung pada neraca keseimbangan antara panas  yang diproduksi atau diabsorbsi dengan pans yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi, dan evaporasi.





Daftar Pustaka

Campbell,N.A. Jane.B.Reece dan Lawrence.G.Mitchell.2004. Biology . Edisi V . Jilid 3.Jakarta : Erlangga.

Frandson R.D, 1992, Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi IV, Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Duke, N.H. 1995. The physiologis of Domestic Animal. Comstock Publishing:New York.

Martini. 1998. Fundamentals of Anatomy and Physiology, 4thed. Prentice Hall International, Inc. New Jersey.

Sturkie, P.D., 1992 Avian Physiology, 3rd, Spingers-Verlag New York, Heidelberg, Berlin.

Swenson, G. M. 1997. Dukes Physiology or Domestic Animals. Publishing Co. Inc. USA.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Kampus_peternakan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger